[PUI] Miskin di Negeri Kaya

Miskin di Negeri Kaya
Adakah negeri sekaya negeri kita.
Tempat jutaan flora fauna berada.
Tempat yang dikaruniahi kekayaan melimpah.

Adakah negeri separah negeri kita.
Separuh rakyat tak pernah memegang uang
Separuh rakyat tak pernah makan nasi
Separuh rakyat tak bertempat tinggal

Adakah negeri seberuntung kita
Yang harus lapar ditengah makanan.
Yang tak pernah menikmati hartanya sendiri.

Sang Anak yang Menangis
Seorang anak duduk termenung.
Memikirkan nasibnya kelak.
Dengan baju yang sudah usang melihat keramaian.
Dengan mata yang lemah meminta recehan.
Berharap ada yang singgah ,
Tapi semuanya tak memiliki rem.

Akhirnya terpaksa ia melanjutkan puasanya.
Sudah dua hari ia lalui harinya.
Esoknya ia kembali mengemis.
Tapi hari ini tetap sama dengan hari kemarin.

Esoknya ia tak lagi kelihatan.
Seorang teman bertanya tentang keberadaannya.
Yang lain berkata ”ia tak perlu lagi mengemis”
Ternyata anak tadi telah gugur dimedan juang.

Kita bertanya?
Bukankah negeri kita begitu kaya.
Kita punya tambang, kita punya pertanian.
Kita punya pertanian, kita punya laut.
Kita punya hutan, kita punya keindahan alam.
Tak ada yang tidak kita punya.

Apa yang harus dilakukan?
Siapa yang harus memperbaikinya?
Dialah kita, sebagai generasi penerus bangsa.

Tambang emas

Dikunjungan pertamaku
Aku lihat gunung everest berada di negeriku.
Disana masih ada kicau burung.
Dan dia masih tinggi menjulang dengan aneka kekayaannya.

Dikunjungan keduaku
Aku terkejut.
Gunung tadi tiba-tiba hilang.
Yang ada sekarang justru danau seluas Indonesia.
Hati bertanya ada apa gerangan
Ternyata gunung tadi adalah istana emas.

Aku berpikir “Wah”.
Emas ini pasti akan membuat bangsaku kaya.
Dengan emas ini rakyatku tak perlu lagi merasakan kemiskinan.

Sekembali aku kekampungku.
Aku melihat.
Ternyata emas tadi, tak berarti apa-apa.
Negeriku tak bertambah kaya.
Penduduknya tetap miskin.

Ternyata emasku hilang, dicuri orang.

Busung Lapar.

Aku seorang petani.
Tiap hari kupergi kesawah bekerja.
Dengannya aku memanen jutaan ton beras.

Aku seorang peternak.
Aku memiliki ratusan peternakan
Dengannya aku mendapat jutaan ton dagin.

Aku seorang nelayan.
Tiap pagi aku pergi berlayar.
Dengannya aku dapat jutaan ikan segar.

Aku juga seorang pengemis.
Tiap pagi aku pergi meminta-minta.
Dengannya sepotong roti aku dapatkan.

Itulah aku.
Dengan roti itu aku hidupi keluargaku.
Akhirnya gisi mereka tak lagi cukup.
Akhirnya busung lapar menjadi anak-anakku

Siapakah aku?
Aku adalah Indonesia.!

.
[S. Thariq al Fatih]. 30 Dzulhijjah 1430 H, 17 Dessember 2009 M.
No: 0000115

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayooo.. berdiskusi lebih lanjut, tentang tema diatas