Sepercik keimanan.Dikala tubuh jatuh kehausan.
Setetes air laksana tumpukan emas yang berkilauan.
Menganggap batu sebagai barang tak berguna.
Padahal ia berlian, jika tiba masanya.
Apa yang kita cari, setelah seabad hidup.
Kita tumpuk harta seluas samudera.
Padahal yang dibutuhkan hanya sebutir debu.
Tipu daya dunia telah menghantar kita pada tempat hina.
Menyadarkan kita akan berharganya iman.
Mengapa kita lupa akan iman
Mengapa tak tunduk pada aturan sejati.
Padahal yang terbaik ada padanya.
Aturan-aturan siapa
Semesta berputar atas kehendak dan aturannya.
Tumbuhan berkembang menjadi pohon juga karenanya.
Kita tahu semua atas kehendak dan aturannya.
Dari pergerakan planet, hingga pergerakan atom-atom.
Dari puncak gunung, hingga dasar samudera.
Semua tunduk pada aturan-aturannya.
Dari galaksi sampai sebutir debu.
Dari bakteri hingga seekor gajah
Semua tunduk pada apa yang telah ditetapkan.
Lalu datang seekor mahluk sombong
Berjalan dengan aturan sendiri
Berbuat dengan apa yang ia sukai.
Dengan sombong ia berkata.
“inilah yang terbaik”
Hari-hari berlalu bagai air mengalir.
Tapi tak ada harapan yang tercapai.
Yang ada hanyalah api yang terbungkus emas.
Membakar Siapapun yang memakainya.
Kini kembali kepada kita.
Aturan, aturan siapakah yang kita gunakan.
Kita atau tuhankah yang paling benar
Dan kearah manakah kita memilih.
--------------------------------------------------------------------
Ketika kita melihat kondisi negeri kita, Kita seharusnya malu. Hukum negeri ini tidak berlandaskan islam. Prinsip-prinsip hidup yang ada hanyalah berbau sekularisme. Dimana kehidupan tak lagi berlandaskan kepada aturan sang pencipta manusia.
Dengan bangganya mereka berkata ‘kebebasan harus disuarakan’. Mereka lupa bahwa mereka telah berani menentang aturan Allah SWT zat yang telah menciptakan mereka.
Akibatnya Ketika kita melihat negeri kita ini. Kita tak lagi melihat negeri islam yang makmur. Tapi hanya negeri sampah yang dipenuhi para koruptor, para pezina, para mencaci agama Allah SWT. Tak ada yang digembirakan. Rakyat terpaksa relah hidup dengan kemiskinan. Rakyatlah yang terpaksa merasakan segala penderitaan.
Apakah kita ingin tetap hidup dengan kondisi seperti ini. Jika tidak, maka beranikanlah diri anda untuk berkata “islam adalah solusi hidup”, seta beranikanlah diri anda untuk segera berjuang mengembalikan penerapan aturan islam di negeri ini.[S. Thariq al-Fatih]
.
[S. Thariq al Fatih]. 29 Dzulhijjah 1430 H, 16 Dessember 2009 M.
No: 0000114
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayooo.. berdiskusi lebih lanjut, tentang tema diatas