
“ada yang mengeluh, merasa jenuh, ingin gugur dan jatuh ia berkata ‘LELAH’. Ada yang lelah, tubuhnya penat, melangkah dengan kepayahan, tapi semangatnya tetap kuat ia berkata ‘LILLAH’ (karena allah), lalu kita bagian dari yang berkata apa? Semoga keikhlasan selalu mengiringi langkah perjuangan kita”
Jika kita berkata lelah. Itu wajar, karena lelah memang konsekuensi dari melakukan sesuatu. Tapi pertanyaannya apakah lelah akan menghentikan kita?. Disinilah persimpangan yang akan menentukan derajat seseorang. persimpangan tersebut akan memisahkan orang yang benar-benar ikhlas dengan yang tidak.
Sejak dahulu kita diberi selalu beberapa pilihan. Kita diberi pilihan untuk ikut berdakwah atau tidak. Setelah memilih berdakwah, kita diberi pilihan untuk berjuang sungguh-sungguh atau hanya jadi penonton.
Ketika kita telah memilih berjuang rasa lelah akan menghadiri kita. Kita kemudian diberi banyak pilihan. Lari dari dakwah, kembali menjadi penonton, menomor duakan dakwah, memilih tugas yang paling ringan, atau tetap menjadi yang pertama dalam berjuang.
Pilihan kita akan menjadi nilai bagi kita. Pilihan kita adalah derajat kita. Apakah kita pantas di samakan dengan derajat para wali allah. Atau hanya seperti para pecundang yang tersebar dimana-mana.
***HIKMAH***
Lelah memang ada di setiap aktifitas dakwah. Tapi lelah tidak pernah ada pada keputusan para pejuang sejati.
***PERENUNGAN***
--- kelelahan adalah salah satu dari ujian
--- seperti halnya ujian lain, kita harus melewatinya
--- seperti ujian lainnya, tak ada ujian yang abadi
--- lelah akan hilang dengan sedikit kobaran semangat keimanan
.
.
[S. Thariq al Fatih]. 24 Ramadhan 1430 H, 15 September 2009 M.
No: 0000125
.
[S. Thariq al Fatih]. 24 Ramadhan 1430 H, 15 September 2009 M.
No: 0000125
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayooo.. berdiskusi lebih lanjut, tentang tema diatas